Skip to main content

Ma’mul Khobar Kana: Pengertian, Contoh Kalimat, dan Ketentuannya

Daftar Isi [ Tampil ]
Ma’mul Khobar
Bahasa Arab memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan bahasa lainnya. Satu di antaranya seperti adanya tanda khusus perubahan harokat pada akhir suatu kata. Perubahan tersebut bukan tanpa sebab, melainkan karena pengaruh dari lafadz sebelumnya, yang disebut sebagai amil, yaitu lafadz yang mempunyai pengamalan terhadap kalimah lain. Sehingga kata yang terjatuh setelahnya dibaca rofa’, nashob, jer atau khafadh, bahkan jazem. Dalam ilmu nahwu, kalimah atau kata yang mendapat pengaruh ini dikenal dengan sebutan ma’mul. Contoh mudahnya seperti kalimat:

الحُبُّ قَدْ يَكُوْنُ دَمْعًا لَا أَكْثَرُ

“Terkadang, cinta hanyalah air mata”.

Kata الحُبُّ (mubtada’) pada contoh di atas berperan sebagai amil. Amil inilah yang kemudian memberikan pengaruh kepada lafadz قَدْ يَكُوْنُ (khobar) sehingga ditandai dengan tanda i’rab rofa’. Adapun mubtada’ itu sendiri, menurut pendapat yang diikuti mayoritas santri dirafa’kan oleh amil ma’nawi ibtida’.

Pengertian Ma’mul Secara Umum

Menurut Syaikh Musthafa Al-Ghalayani dalam kitab Jami’ud Durus Al-Arabiyyah, pengertian ma’mul adalah sebagai berikut:

المَعْمُوْلُ هُوَ مَا يَتَغَيَّرُ آخِرُهُ بِرَفْعٍ أَوْ نَصْبٍ أَوْ جَزْمٍ أَوْ خَفْضٍ بِتَأْثِيْرِ العَامِلِ فِيْهِ

Artinya: “Ma’mul adalah sesuatu yang berubah akhirnya dengan tanda i’rab rafa’, nashab, jazem, ataupun khafadh sebab pengaruh amil di dalamnya”.

Dari pengertian ma’mul tersebut, maka dapat dikatakan bahwa ma’mul merupakan produk dari amil, perubahan akhirnya sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh amil. Ma’mul dapat berharakat dhammah, kasrah, khafadh, dan jazem sesuai dengan kedudukannya dalam suatu jumlah atau kalimat.

Pengertian Ma’mul Khobar Kana

Ma’mul khobar kana adalah lafadz yang dihadirkan sebagai pelengkap makna khabar guna memperjelas maksud yang ingin dicapai mutakallim. I’rabnya menyesuaikan dengan kebutuhan amil. Contohnya seperti kalimat berikut:

كَانَ زَيْدٌ لَابِسًا ثَوْبَهُ

“Zaid mengenakan pakaiannya”.

Pada contoh tersebut, isim لَابِسًا dibaca nashab sebagai khabar kana. Sedangkan lafadz yang terjatuh setelahnya, yaitu ثَوْبَهُ adalah ma’mul khobar kana yang berkedudukan menjadi maf’ul bih sehingga ditandai dengan i’rab nashob.

Ketentuan Ma’mul Khobar Kana

Di antara ketentuan yang perlu diperhatikan ketika hendak membuat susunan kalimat dalam bahasa Arab adalah pola urutan lafadznya. Salah sedikit saja dalam peletakannya dapat membelokkan bahkan merusak susunan struktur kalimat baik dari segi makna maupun lafadz.

Syaikh Jamaluddin Muhammad bin Abdillah bin Malik telah berkata dalam nadzomnya Alfiyah ibnu Malik mengenai letak posisi atau pola urutan suatu lafadz yang menjadi ma’mul khobar kana sebagai berikut:

وَلَا يَلِى العَامِلَ مَعْمُوْلَ الخَبَر | إِلَّا إِذَا ظَرْفًا أَتَى أَوْ حَرْفَ جَرّ

“Ma’mul khobar kana tidak boleh mengiringi amilnya, kecuali jika ma’mul tersebut berupa dharaf atau jer majrur”.

Ketidakbolehan ma’mul khobar terjatuh tepat setelah amil kana dan saudaranya ini bilamana ia tidak berupa dharaf maupun jer majrur. Contohnya seperti kalimat berikut:

كَانَ طَعَامَكَ زَيْدٌ آكِلًا

“Zaid orang yang memakan makananmu”.

Keadaan tersebut adalah kesepakatan ulama basrah. Menurut pendapat para ulama kuffah, boleh memposisikan ma’mul khobar tepat setelah amil yang khobarnya diakhirkan, sekalipun tidak berupa dhorof atau jar majrur.

Dengan demikian, bilamana mendahulukan khabar dan ma’mul mengakhirkan isim kana dan saudaranya, maka tidak ada perdebatan di sini. Karena tidak adanya ma’mul khobar mengiringi amilnya. Seperti kalimat:

كَانَ آكِلًا طَعَامَكَ زَيْدٌ

Apabila ma’mul khobar kana berupa dharaf atau jar majrur, maka baik dari ulama basrah maupun ulama kuffah sepakat memperbolehkan ma’mul khabar kana terletak tepat setelah amilnya. Sebab setiap lafadz yang menjadi amil itu mengandung makna hadats (kejadian atau peristiwa), dan setiap hadats membutuhkan dhorof (keterangan tempat dan waktu). Begitu juga dengan jar majrur, karena secara ma’nawi dharaf menyimpan makna huruf jer في. Sehingga diperbolehkan mengucapkan kalimat:

كَانَ عِنْدَكَ زَيْدٌ مُقِيْمًا وَ كَانَ فِيْكَ زَيْدٌ رَاغِبًا

Kendati demikian, tidak dipungkiri juga terdapat kalam atau syair-syair Arab terdahulu yang menyusun ma’mul khobar tepat setelah kana dan saudaranya meski tidak berupa dhorof atau jer majrur. Padahal hal tersebut nyata-nyata telah dicegah, lalu bagaimana cara untuk menginisiatifnya?

وَمُضْمَرَ الشَّانِ اسْمًا انْوِ إِنْ وَقَعْ | مُوْهِمُ مَا اسْتَبَانَ أَنَّهُ امْتَنَع

“Dan kira-kirakanlah dhamir sya'n sebagai isimnya kana dan saudaranya jika ada anggapan benar dari kalam Arab yang nyata-nyata itu telah dilarang”.

Melalui nadzom Alfiyah di atas, Imam ibnu Malik menawarkan untuk mengira-ngirakan dhamir sya’n atau dhamir mustatir atas kana dan saudaranya sebagai isimnya, dan jumlah yang terjatuh setelahnya dijadikan sebagai khabarnya. Seperti syair Arab berikut ini:

قَنَافِدُ هَدَّاجُوْنَ حَوْلَ بُيُوْتِهِمْ | بِمَا كَانَ إِيَّاهُمْ عَطِيَّةُ عَوَّدَا

“Orang-orang fasik dan penghianat didikan Athiyyah bagaikan hewan landak yang berkeliaran di antara rumah-rumah penduduk”.

Secara tekstual, terlihat lafadz إِيَّاهُمْ (ma'mul khobar) mengiringi kana. Namun pada dasarnya amil kana tersebut menyimpan dhamir yang berlaku sebagai isimnya. Dan jumlah عَطِيَّةُ عَوَّدَ yang terjatuh setelah ma’mul menjadi khabar kana. Contoh lain seperti:

فَأَصْبَحُوا وَالنَّوَى عَلِى مُعَرَّسِهِمْ | وَلَيْسَ كُلَّ النَّوَى تُلْقِى مَسَاكِيْنُ

“Maka pada pagi harinya, biji-biji kurma menumpuk di tempat mereka menginap. Padahal tidak semua biji kurma itu dilemparkan oleh mereka (orang-orang miskin)”.

Susunan idhafah كُلَّ النَّوَى merupakan ma’mul dari khobar jumlah تُلْقِى مَسَاكِيْنُ yang secara dhahir nampak terletak tepat setelah amil لَيْسَ. Namun sebenarnya terdapat dhamir tersirat sebagai isimnya لَيْسَ saudaranya kana.

Open donation: Kami membuka donasi bagi siapapun yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya untuk pengembangan situs web ini melalui laman; support kami
Article Policy: Diperbolehkan mengambil sebagian artikel ini untuk tujuan pembelajaran dengan syarat menyertakan link sumber. Mohon koreksi jika ditemukan kesalahan dalam karya kami.
Tutup Komentar