Skip to main content

Nahwu Wadhih Juz 1, Juz 2, dan Juz 3 PDF Terlengkap Edisi Pemula

Daftar Isi [ Tampil ]
Nahwu Wadhih
Buku-buku bahasa Arab banyak ditulis dan disebarkan secara luas di masyarakat umum. Namun, sebetulnya ada kepelikan tersendiri ketika mendalami bahasa Arab dari beberapa versi buku yang berbeda dalam penyuguhannya, meskipun konten yang disajikan itu masih dalam cakupan yang sama, misalnya dalam kitab ilmu nahwu yang paling populer dan laku di hati masyarakat, yakni kitab Nahwu Wadhih dan ini merupakan kitab yang banyak ditelaah di Indonesia, terutama di kalangan peminat bahasa Arab, karena kitab ini merupakan kitab yang membicarakan mengenai tata bahasa Arab karya ulama modern Mesir yaitu Ali al-Jarim dan Mushtafa Amin, yang terdiri atas 3 juz.

Latar Belakang Kitab Nahwu Wadhih

Latar belakang atas disusunnya kitab Nahwu Wadhih adalah berdasarkan atas kemauan yang kuat dari penulis menjaga khazanah keilmuan gramatika Arab. Pada kepemilikan kitab Nahwu Wadhih yang ditulis oleh ‘Ali al-Jarim dan Mushtafa Amin, beliau mengatakan sebagai berikut:

Keduanya menyaksikan bahwa buku nahwu untuk pemula yang sudah banyak disusun hanya mencapai sedikit dari keinginan yang diharapkan. Tidaklah mengherankan jika hal ini terjadi, karena beberapa buku nahwu yang sejauh ini digunakan sudah begitu lama penyusunannya, bahkan juga sudah melalui beberapa periode atau masa.

Oleh karenanya, beberapa buku itu memiliki kandungan dampak-pengaruh dari masa lalu. Pada masa sekarang ini, cahaya mulai bersinar, dan telah membuat mata manusia terbuka untuk menemukan sistem baru. Berkat keseriusan dan keuletan para ahli dalam permasalahan ini, sampai juga kemudian pada hasil yang layak disanjung, karena ini merupakan suatu kajian baru, yang sudah melalui uji-coba yang baik. Maksudnya, metode-metode yang digunakan jauh dari pengaruh seni kuno dan aliran lama.

Setelah lama ‘Ali al-Jarim dan Mushtafa Amin mencoba mempelajari keadaan, mencari informasi mengenai pelajar, dengan mempelajari karakter, kecenderungan dan perilaku mereka, dan berusaha susah payah kami membaca apa yang sebetulnya mereka butuhkan, dan ternyata kami melihat di dalam diri mereka itu suatu keraguan, tidak dalam kesungguhan dan keseriusan. Maka, terbesit dalam hati kami untuk menyusun sebuah buku Qawa'id al-Lugah al-‘Arabiyyah yang sesuai dengan kapabilitas mereka dan mampu membuka pengetahuan, membawa mereka mencapai tujuan, dan menumbuhkan rasa cinta pada bahasa Arab, karena bahasa Arab bukanlah sebuah teka-teki, ajimat, dan bukan juga sebuah momok yang menakutkan. Bahasa Arab merupakan suatu bagian ayat-ayat yang jelas, dari lisan Arab, sumber kebanggaan, dan kehormatan tanah air mereka. Bagi Keduanya, kekeliruan ini benar-benar terlihat dan meresap sampai akhirnya menteri pengetahuan melakukan perubahan-perubahan metode tersebut dengan mengeluarkan sebuah metode baru yang lebih baik.

Karena itulah, semakin bertambah kuat kemauan kami hingga tersusunlah kitab Nahwu Wadhih 3 juz ini. Setiap metodenya terdiri atas metode-metode untuk kelas dua, tiga, dan empat madrasah ibtidaiyyah. Dalam kitab ini, ‘Ali al-Jarim dan Mushtafa Amin menggunakan metode istinbat, yang beberapa langkah pengajarannya lebih dekat dengan daya berpikir anak, lebih menguatkan dan gampang untuk dinalar, karena metode ini adalah sebaik-sebaiknya metode pendorong untuk berpikir, memperbandingkan kesamaan dan perbedaan akan suatu hal yang sama dan bersimpangan, kami memperbanyak contoh-contoh yang mana darinya diambil beberapa kaidah.

Dengan model baru ini, kami membuat kitab an-Nahwu al-Wadhih menjadi kitab yang ringan untuk dimengerti dan semudah mungkin dapat diterima, dengan memperhatikan beberapa sisi kehidupan, kemauan, dan lingkungan anak, tentu saja kitab ini akan menjadi sangat menarik sekali untuk pembelajar bahasa Arab tingkat pemula. Dalam kitab ini, tiap contoh kalimat bahasa Arab selalu diterangkan sejelas mungkin, terlepas dari istilah-istilah ilmiah dan akan membawa pelajar pada kaidah-kaidah yang jelas dan umum. Keduanya memberikan kaidah atau penjelasan dari tiap istilah bahasa Arab dengan memakai bahasa yang jelas.

Adapun untuk latihan-latihan, kami membuat beragam jenis yang mudah dipahami, dengan memakai bahasa Arab yang akrab atau kosa kata yang tidak susah, sehingga mampu mendorong pembelajar bahasa Arab untuk membuat kalimat, melatih membuat insya' (karangan berbahasa Arab) yang berkaitan dengan kaidah-kaidah yang pembelajar bahasa telah sedikit mengenali. Keduanya berkeyakinan jika Qawa’id al-Lugah al-‘Arabiyyah ini harus dikombinasi dengan insya'. Dengan demikian, akan kelihatan hasil yang jelas dari apa yang dipahami dalam kaidah bahasa Arab.

Dalam membuat contoh kalimat bahasa Arab, kitab ini berusaha untuk menghindari kosa kata bahasa Arab yang diambil dari syair-syair, ahkam, dan amtsal atau semacamnya. Karena, kemampuan kosa kata itu dipandang susah untuk pemula dan berat untuk membuat contoh yang serupa.

Berdasarkan penjabaran muqaddimah di atas, bisa diketahui bahwa kitab an-Nahwu al-Wadhih adalah satu di antara kitab bahasa Arab yang kontemporer dan menjadi pelengkap dalam memberikan tambahan kajian bahasa Arab. Oleh karenanya, para pembelajar bahasa Arab yang sejauh ini masih kesusahan saat belajar bahasa Arab akan merasa terbantu dengan metode kitab yang cukup menarik ini, karena kajian kitab nahwu dasar yang sejauh ini telah ada itu masih dipandang susah bagi sebagian kelompok pembelajar.

Tujuan dan Manfaat Disusunnya Kitab Nahwu Wadhih

Disusunnya kitab nahwu dasar ini mempunyai tujuan untuk mendekatkan pembelajar bahasa Arab dengan metode yang tepat. Metode ini mempermudah para pemula untuk menghafal materi kitab, dan sebagai wasilah untuk memahami ilmu nahwu yang mempelajari bahasa Arab.

Di sejumlah pesantren dan sekolah agama Islam khususnya di pesantren yang berbasis modern, kitab ini sangat populer, banyak dipelajari dan telah lama digunakan mulai dari zaman dahulu hingga sekarang. Kitab ini cukup ringkas, tapi kandungan maknanya demikian besar. Kaidah-kaidah nahwu yang disuguhkan dengan contoh-contoh kalimat yang memikat, dilanjutkan dengan penjelasan kaidahnya, menjadikan kitab ini banyak dicari para pemula dalam mengkaji ilmu nahwu di seluruh nusantara.

Metode Kitab an-Nahwu al-Wadhih

Dilihat dari aspek karakteristik dan metode, kitab an-Nahwu al-Wadhih adalah kitab yang disusun dengan memakai metode induktif (at-thariqah al-istiqraiyyah). Sebuah metode yang menyuguhkan materi dengan beberapa contoh konkret, kemudian diikuti oleh penjelasan dan ikhtisar (generalisation). Selain dengan metode induktif yang bisa secara mudah dipahami oleh para pembelajar, kitab ini juga cukup berbeda dengan lainnya, karena kitab nahwu yang lain cukup umum memakai metode deduktif (at-thariqah al-qiyasiyyah).

Dan untuk konteks saat ini, kita memerlukan kitab dan bahan ajar yang pas bagi para pembelajar bahasa Arab. Khususnya untuk tingkat pemula, karena cukup banyak yang mengatakan jika bahasa Arab itu susah untuk dipelajari, baik oleh orang Arab (‘arabi) maupun oleh non-Arab (a'jami).

Kitab an-Nahwu al-Wadhih menjadi jawaban yang pas untuk perkembangan bahasa Arab di berbagai negara termasuk di Indonesia, mudah-mudahan dengan kehadiran kitab ini mampu memperbaiki anomali bahasa Arab dan mampu menjaga eksistensi bahasa Arab, karena menurut penulis, bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran ini mengalami anomali atau kerusakan di berbagai negara Arab yang disebabkan oleh bahasa non-formal, misalkan di Mesir ada bahasa ‘amiyah, di Oman ada bahasa suqiyah dan di Maroko ada bahasa darijah, sehingga kondisi ini memaksakan kita untuk mampu menyelamatkan bahasa Arab dari kerusakan-kerusakan yang disengaja maupun tidak, kondisi ini benar-benar ironis bila kita melihat dari segi kehebatan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran.

Nahwu Wadhih Juz 1

Kitab Nahwu Wadhih juz 1 ini terdiri dari tujuh belas kaidah, dari kaidah pertama sampai keempat itu diawali dengan pembicaraan berkenaan kalam atau kalimat dalam bahasa Arab, yaitu aturan mengenai jumlah mufidah dan macam-macam jumlah, baik jumlah ismiyyah maupun fi'liyyah hingga kepada kaidah tentang pembagian fi'il berdasarkan zamannya, yaitu fi'il madhi, mudhari', dan fi'il amr. Selanjutnya dari kaidah tentang fa'il, mubtada' khobar hingga kaidah jumlah ismiyyah itu mengulas mulai dari pengertian dan ketentuan fa’il hingga ke pembahasan kalimat verbal dan kalimat nominal.

Download: Nahwu Wadhih Juz 1 PDF

Pada kaidah nashab fi'il mudhari' hingga raf'anya fi'il mudhari' membicarakan tentang kondisi i'rab fi'il, bagaimana kondisi fi'il mudhari' dalam i'rab rafa', nashab, dan jazm. Kaidah selanjutnya adalah mengenai kana dan saudaranya hingga kaidah paling akhir dalam juz 1 ini membicarakan kondisi isim yang kemasukan ‘amil kana dan inna beserta saudaranya.

Nahwu Wadhih Juz 2

Pada kitab Nahwu Wadhih juz 2 ini diawali dengan kaidah ilmu sharaf atau tashrif, seperti pembagian fi’il berdasarkan huruf akhirnya yang tergolong kepada fi'il sahih dan mu'tal akhir.

Pada kaidah ke-2 (al-mabni wa al-mu'rab) sampai kaidah ke-8 (al-i'rab al-mahalli) mengulas mengenai kalimah mabni dan mu'rab, menerangkan macam-macam isim mabni dan mu'rab hingga tingkahnya dalam bentuk fi'il amr dan mudhari'.

Pada kaidah al-fi'il al-mudhari' al-mu'tall al-akhir wa ahwalu i'rabihi sampai kaidah al-af'alu al-khamsah wa i'rabuha itu mengulas mengenai kondisi i'rab fi’il mudhari mu’tal akhir, dan kondisi i'rab kalimat khusus yang mu'tal, seperti isim dan fi'il. Pada kaidah selanjutnya yang diawali dengan kaidah taqsim al-ism ila mufrad wa mutsanna wa al-jama' sampai kaidah i'rab jama' al-mu'annats as-salim ini mengulas kondisi i'rab untuk isim yang mufrad, tasniyyah, dan jamak.

Download: Nahwu Wadhih Juz 2 PDF

Dan pada kaidah selanjutnya, mengulas mengenai al-mudhaf dan al-mudhaf ilaih (kata frase), kondisi i'rab asma'ul khamsah dan tanda-tanda ta'nis pada beberapa bentuk fi'il dan isim. Pada kaidah an-nakirah wa al-ma'rifah sampai kaidah al-ism al-isyarah ini menerangkan mengenai pembagian isim berdasarkan sumbernya, yakni isim nakirah dan isim ma'rifah, dan mengulas jenis isim yang lain, seperti isim mausul dan isim isyarah.

Kemudian, kaidah selanjutnya yakni kaidah naibul fail sampai kaidah yang paling akhir di juz 2 ini mengenai dzarfu al-zaman dan dzarfu al-makan, mengulas mengenai macam-macam obyek dan kata keterangan dalam kalimat verbal.

Nahwu Wadhih Juz 3

Pada kitab Nahwu Wadhih Juz 3 ini ada pengulangan kaidah yang ada di Juz 1 dan 2. Tetapi secara ulasan, materinya lebih diperdalam dan diperlebar. Untuk aturan pertama mengulas mengenai mubtada' khobar saat pada kondisi jumlah atau syibhul jumlah, untuk aturan seterusnya, dimulai dari aturan mawadhi'u fathi hamzati anna sampai mawadhi'u kasri hamzati anna itu mengulas tanda baca huruf anna dan masdar mu'awwal.

Dan pada aturan taqsimul fi'il ila shahih wa mu'tal sampai aturan isnadul af'al al-shahihah wa al-mu'tallah ila al-dama'ir al-barizah ini berhubungan erat dengan ilmu sharaf yang mengulas macam-macam fi'il shahih, fi'il mu'tall dan kondisi saat kemasukan dhamir rafa’ mutaharrik.

Pada aturan al-mujarrad wal mazid ini mengulas mengenai pembagian fi'il mujarrad dan mazid, baik itu tsulasi maupun ruba'i. Selanjutnya membicarakan mengenai hamzah washal dan qatha’. Dan pada kaidah seterusnya ini mengulas mengenai pembagian kata kerja yang muta'addi dan lazim, dan wujud tasrif, seperti isim fa’il (subyek) dan isim maf’ul (obyek).

Download: Nahwu Wadhih Juz 3 PDF

Dan untuk kaidah al-mutsanna, al-hal, hingga al-munada itu mengulas mengenai isim-isim yang perlu dibaca pada kondisi nashab. Di samping itu, juga mengulas mengenai at-tamyiz mulai dari penjelasan hukum hingga ketentuannya.

Kaidah selanjutnya (al-mamnu'u min as-sharf), menerangkan mengenai isim-isim yang tidak dapat menerima tanwin, baik disebabkan karena isim itu berbentuk isim alam, isim sifat, sighat muntahal jumu' dan lain-lain.

Terakhir kaidah mengenai na’at haqiqi dan na’at sababi, muthabaqatu an-na'ti li al-man'uti, anna'tu nista yakunu jumlatan, at-taukidu, taukidu al-dhamir al-muttasilah wa al-mustatir, al-‘athfu dan ulasan al-badal. Semua ini mengulas mengenai beberapa macam i'rab at-tawabi' beserta penjelasan lainnya. Pada kaidah paling akhir dalam kitab Nahwu Wadhih Juz 3 ini mengulas mengenai perabot istifham dan jawab, yang menerangkan wujud kata apa saja yang digunakan dalam kalimat tanya dan bagaimana kata yang digunakan untuk menjawab pertanyaan.

Referensi: Andi Holilullah, dkk. "Analisis Materi dan Metode Sintaksis Arab dalam Kitab An-Nahwu Al-Wadhih". Al-Fathin, Vol. 3, Edisi 2 Juli-Desember 2020.

Open donation: Kami membuka donasi bagi siapapun yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya untuk pengembangan situs web ini melalui laman; support kami
Article Policy: Diperbolehkan mengambil sebagian artikel ini untuk tujuan pembelajaran dengan syarat menyertakan link sumber. Mohon koreksi jika ditemukan kesalahan dalam karya kami.
Tutup Komentar